Menjadi
Guru yang Digugu dan Ditiru
Fadlil Yani Ainusyamsi
Di dalam slogan bahasa sunda, guru adalah sosok pribadi nu kudu digugu
jeung ditiru. Slogan ini menunjukkan bahwa kedudukan guru memiliki makna
yang sarat dengan nilai-nilai filosofis dalam kehidupan. Ia memiliki peran
ganda yang tidak terpisahkan yakni sebagai pengajar dan juga sebagai pendidik.
Begitu besarnya peranan guru sebagai pengajar dan pendidik, kemajuan pendidikan
ditentukan oleh peran guru itu sendiri. Fungsi guru dihadapan anak didik sebagai
pengajar adalah membantu dalam peningkatan kecerdasan (intelegensi) anak
didik. Sedangkan guru sebagai fungsi pendidik adalah kemampuan guru untuk
mengarahkan anak didik agar memiliki nilai-nilai idealitas personal.
Menjadi guru yang digugu dan ditiru, syarat utama yang harus ada adalah
menjadikan dirinya sebagai pribadi yang sehat. Ia sehat secara jasmani dan
rohani. Ketika seorang guru memiliki kepribadian sehat, tentunya tidak hanya
berfikir bagaimana pengajaran itu dilakukan, tetapi pesan ruh pendidikan itu
sendiri akan dapat tersampaikan baik terhadap siswa maupun lingkungan sosial.
Di dalam konteks lingkungan sekolah, seorang guru harus mampu beperan dalam
mentransfer ilmu pengetahuan yang sesuai dengan mata pelajaran untuk
kepentingan siswa, baik secara pribadi maupun secara akademis. Dalam hal ini
guru harus mampu menciptakan suatu tatanan kondisi siswa di mana sekolah adalah
kumpulan siswa yang datang dari latar belakang keluarga yang berbeda. Tujuan
utamanya adalah sekolah menjadi suatu lingkungan yang berdiri sendiri di atas
nilai-nilai pendidikan yang komprehensif.
Rasulullah SAW. telah memberikan contoh yang nyata dalam
menyampaikan wahyu kepada umat manusia. Beliau berdakwah ke setiap penjuru kota
Makkah lebih mengedepankan nilai akhlak yang mulia (akhlakul karimah).
Beliau tidak saja ramah dan hormat terhadap sahabat, tetapi juga terhadap
musuhpun beliau tetap mengedepankan akhlak yang terpuji, karena tujuan utamanya
adalah merubah perilaku manusia dari kerusakan akidah, akhlak dan perilaku manusia
untuk menciptakan peradaban baru yang sesuai dengan sya’riat dan ajaran Islam.
Cara-cara yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. tersebut,
tentunya dapat ditiru oleh seorang guru dalam proses pembelajaran. Maka untuk
itu, pribadi guru harus memiliki rambu dan etika, antara lain; pertama;
seorang guru dalam menghadapi anak didiknya harus memiliki sifat dan sikap
keibuan atau kebapakan.
Kedua, memiliki pengetahuan mengenai isi dari ajaran yang
bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Tujuannya adalah untuk membangun pribadi
perserta didik menjadi insan yang suci sejak dini. Untuk membentuk pribadi yang
suci maka perlu ditanamkan kalimah thayyibah (kata yang serba suci),
sebagaimana firman Allah SWT;
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan
cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim
dengan seizin Allah” (Q.S. Ibrahim; 24-25)
Tanggungjawab Profesi
Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang guru, maka harus
menyadari bahwa ia akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
yang akan didiknya. Tuntutan orang tua ketika menyerahkan anaknya untuk masuk
sekolah, maka di sanalah guru harus berperan memberi warna dengan ilmu pengetahuan
dan penanaman nilai-nilai kehidupan terhadap peserta didik. Guru harus mampu
berkomunikasi dengan orang tua seputar perkembangan anak didiknya. Mereka
sama-sama mendorong siswa agar mampu menjadi pribadi yang utuh.
Seorang guru memiliki tanggungjawab besar terhadap profesi yang lakukannya.
Setidaknya ada tiga aspek yang tidak terpisahkan dari seorang guru. Pertama,
seorang guru harus mampu menjadi pribadi pendidik, kedua, harus memiliki
keterampilan dalam bidang mengajar, ketiga, memiliki kepribadian sehat
yang dapat diguru dan ditiru baik oleh siswa maupun masyarat, sehingga ia
menjadi sosok yang menularkan tauladan dan dihormati.
Di hadapan masyarakat, guru tidaklah dilihat ia sebagai pengajar pelajaran
apa, di mana tempat tugasnya, tetapi dipandang sebagai sosok yang memiliki budi
pekerti luhur dan wawasan yang luas. Permasalahannya, ketika ia dihadapkan
dengan perilaku yang tidak sejalan dengan norma hukum maupun adat, maka
risikonya adalah kecaman yang berat pasti diterima. Lebih parahnya lagi apabila
seorang guru tidak memahami dirinya sebagai seorang guru. Oleh karenanya betapa
pentingnya seorang guru selalu menampilkan peribadi yang menjadi panutan baik
oleh siswa di sekolah maupun oleh masyarakat luas.
Karena tuntutan profesi, seorang guru harus lebih berperan sebagai pendidik
multikultural. Pendidikan multikultural didasari asumsi, tiap manusia memiliki
pengalaman hidup unik dan berbeda-beda. Kegiatan belajar-mengajar bukan
ditujukan agar peserta didik menguasai sebanyak mungkin materi ilmu atau nilai,
tetapi lebih hasil yang diharapkan mampu menjadi dirinya sendiri baik secara
individu maupun sosial
Karena itu, pribadi guru
benar-benar dipertaruhkan di lingkungan sosial. Slogan guru adalah pribadi yang
harus diguru dan ditiru harus menjadi doktrin sendiri karena tuntutan profesi. Insya
Allah !